Untuk Ibu
Tapi aku berharap suatu hari nanti kita bisa begitu dekat. Tapi apakah itu semua mungkin? Aku tak tahu. Itukan hanya harapan.
Oh, iya. Masih ada sangat banyak harapan lagi yang perlu aku tulis dan ceritakan. Tak hanya begitu dekat bagiku itu tak cukup. Aku mau kita saling mengenal tak hanya sekadar tahu, aku mau kita bisa begitu akrab dan tak ada rasa canggung. Aku ingin ibu menjadi teman terbaikku.
Supaya aku bisa berbagi suka dan duka dengan mu. Bisa bercerita sepuas hati ku. Aku belum pernah merasakannya. Bagaimana rasanya?
Kau dan aku terhalang dinding tapi bukan tak mungkin dinding itu akan roboh? Kau dan aku bagai es bukan tak mungkin kita bisa mencair?
Katakan padaku, iya atau tidak?
Kau terlalu diam, tak banyak bicara. Sedang aku terlalu sibuk dengan duniaku dan rikuhku.
Setelah aku pikir lagi. Setelah berulang kali kita berjumpa tapi kita tetap saja sebatas dua orang asing. Yang aku tahu “ Kau ibuku, dan aku anaknya?”. Lalu apa lagi? Sepertinya tak ada.
Kepala ku seolah berkata “ Tak mungkin untuk kamu seperti mereka”.
Semoga apa yang dikatakannya barusan salah. Karena aku tak mau jika itu harus terjadi.
I hope time will fix everything. We just need a little time. Not that it can’t. If only he wasn’t there. Then who will be my best friend if not you.
Otherwise we could never be so close. So make us silent but not with our hearts and minds.

.png)
Komentar
Posting Komentar