Ogenblik
Sejak pertama kali bertemu, dia memang terlihat berbeda, itu tampak dari mimik wajahnya yang tenang. Tak butuh waktu lama untuk saya tahu namanya. Dia, Latief Hendraningrat. Saya ingat namamu seperti nama pahlawan, sama persis. Hanya orangnya yang berbeda.
Latief, dia adalah anak Pramuka sekaligus senior saya. Saya mengenalnya lewat kegiatan kepramukaan di sekolah.
" Ada ya, orang yang seperti kamu di dunia ini. Baik, pintar, rajin, dan ... . Yang lainnya rahasia."
Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya belum pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang seperti kamu.
_
Hari Jum'at, dulunya sempat menjadi hari yang paling saya benci. Tapi tidak dengan saat ini. Rupanya hari Jum'at adalah hari yang paling dinanti-nanti.
Kenapa?
Saya sudah berubah bukan lagi kanak-kanak yang malas jika bicara tentang belajar atau hal berat. Dan satu lagi, kecintaan saya terhadap belajar. Juga, Latief.
Kenapa saya membenci hari Jum'at?
Dulu, hari Jum'at adalah hari wajib untuk setiap anak mengikuti kegiatan kepramukaan. Kalau hari ini Jum'at, sepulang dari sekolah saya harus kembali lagi ke sekolah untuk mengikuti kegiatan kepramukaan. Saya tidak bisa bermain dengan teman-teman, nonton TV, atau tidur siang. Saya jadi tersenyum sendiri, memikirkan betapa dulu saya masih kekanak-kanakan.
_
Jum'at ini seperti biasa, saya mengikuti kegiatan kepramukaan. Saya bahagia bukan kepalang. Ada dua alasan sebenarnya. Pertama, PBB. Kedua, Latief.
Jangan tanya lagi soal alasan, saya tidak tahu jawabannya.
Beberapa kali sudah saya menatap wajahnya. Entah sudah berapa kali mata saya dan matanya saling bertemu. Dia tersenyum, begitupun dengan saya. Dua kali, dia memegangi tangan saya karena salah melakukan gerakan hormat.
Dag-dig-dug, saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan diri saya. Campur aduk, tak karuan.
_
Saya bisa melihat dari matanya, kalau dia punya perasaan yang sama. Tapi, mungkin saja kalau tebakan saya salah.
_
Dian,
"Lagu ini dari Raka untuk Putri Ajeng Kartini. Ajeng, kamu mau enggak jadi pacar aku?"
Putri Ajeng Kartini, apa mungkin itu buat saya?
"Ajeng, ada yang nembak kamu, tuh!"
" Masa, sih. Bercanda, ya...?"
" Kalau gak percaya tanya aja Retno"
" Buat apa?"
" Raka, dia nembak kamuuu!"
" Raka?"
" Raka Anggara, bukan Muhammad Raka."
" Masih gak paham!"
" Bukan Raka yang waktu itu kita ketemu."
" Berarti beda, ya?"
" Beda, beda..."
" Cie...cie... diterima gak?"
" Gak tahu."
" Kok gitu, sih."
_
Di Sebuah malam, terdengar ketukan papan bersama sebuah suara. Sepertinya ada seorang pembeli.
" Ada minuman, teh atau apa?"
" Sebentar, saya lihat dulu"
" Tidak ada teh, cuma ada Aqua gelas. Mau?"
" Boleh, dua aja."
" Ini."
" Berapa?"
" Seribu."
" Makasih."
" Sama-sama"
Saat kaki saya hendak pergi meninggalkan papan ruko.
" Eh, tunggu."
Saya pun berbalik badan.
" Kamu Ajeng, kan?"
" Iya."
" Raka, katanya minta nomor telepon kamu!"
Raka? Mungkin dia yang tadi siang...
Kata laki-laki itu menyodorkan sebuah handphone samsung putih kepada saya. Entah kenapa? Waktu itu otak saya mungkin sedang error sehingga dengan mudahnya saya mengetik nomor saya lalu memberikan handphone itu.
Tanpa pikir panjang.
" Makasih."
"Iya"
_
" Ajeng, katanya mau tahu Raka yang mana?"
" Emang yang ada orangnya?"
" Itu..."
" Di sana ada empat orang!"
" Yang lagi berdiri pake jam tangan hitam."
" Ohhh..."
" Oh, kenapa?"
" Enggak papa."
Raka, saya baru ingat kalau dia adalah orang yang waktu itu, tepatnya saat kegiatan kepalangmerahan di lapangan ngeliatin saya sambil senyum-senyum.
Akhirnya, rasa penasaran saya terjawab juga.
_
Masih pagi di sekolah.
Pukul 06.30, saya baru sampai di ruang kelas.
" Pagi, Retno."
" Pagi, juga Pujeng."
Saya menyapa teman sebangku, yang sudah datang lebih awal.
" PJ, PJ, PJ..." Kata Audrey
" Masa sih kamu gak paham?" Kata Retno
" Pujeng!" Tambah Audrey.
" Ada apa?."
Balas saya singkat tanpa menenggok ke arah mereka berdua. Karena otak saya sedang terfokus untuk memeriksa apakah tugas matematika ini saya jawab dengan benar.
" Audrey, minta PJ sama kamu!"
" PJ?"
" Emang kamu belum mengerjakan tugasnya? Nomor berapa yang belum?"
" Aku gak minta contekan, aku minta Pajak Jadian."
" Siapa yang jadian?"
" Kamu!" Mereka berdua kompak
" Sama siapa?"
" Raka."
" Enggak."
" Jadi, ditolak".
" Enggak."
" Diterima."
" Enggak."
" Saya belum jawab."
" Kenapa?"
" Masih bingung mau jawab apa?"
" Maaf, ya. Aku kira udah jadian."
" Maafin, gak"
" Enggak."
" Enggak marah, kok."
" Aku kira kamu bakal marah."
Kami bertiga pun ketawa bareng. Saya, Audrey, dan Retno memang bersahabat sejak bangku pertama SMP.
_
Lima hari semenjak tragedi Raka.
Siang ini ada rapat kepalangmerahan, katanya sih menyoal lomba antar sekolah dasar yang bertujuan untuk mempromosikan sekolah ini.
Raka, ada di sekolah juga. Dia menanyakan hal yang sama dengan lima hari yang lalu.
Saya tak mengatakan banyak hal, saya cuma bilang saya belum punya jawaban, saya minta waktu.
Raka lalu pergi meninggalkan saya.
Saat rapat berlangsung saya melihat Raka sedang bermain sepakbola di lapangan bersama dengan beberapa temannya yang tak asing bagi saya.
Dia tersenyum dari kejauhan saat saya melihat ke arahnya. Saya pun melakukan hal yang sama.
_
Hari demi hari berlalu. Hingga tibalah hari ini.
Jam istirahat, saya bersama mereka seperti biasanya duduk di tangga koridor. Memang tempat ini menjadi salah satu yang enak untuk ngobrol bareng.
" Ajeng"
Sontak saya pun berbalik saat mendengar seseorang memanggil nama saya dari belakang. Ternyata Raka dan ketiga orang temannya.
" Gimana kamu terima atau enggak?"
Dia nagih jawaban tapi kroyokan gak ada romantis-romantisnya dan dalam hitungan detik saya bilang iya. Aduh kira-kira jawaban saya bener atau salah, ya?
Bisa-bisanya saya terima kamu jadi pacar saya. Padahal saya belum ada rasa sama kamu, di hati saya ada Latief. Tapi begini kiranya pikiran saya waktu itu
" Cinta itu bisa tumbuh kapan saja, jadi terima saja dulu. Jujur saya juga merasa kasihan sama dia kalau saya tolak."
Untuk beberapa menit saya melongo bingung harus bahagia atau sedih?
"Selamat..." Kata Retno seraya menyalamiku dengan girang.
"Cieeee..." Mereka serempak.
" Ngagetin aja, sut jangan berisik gitu malu tahu!"
" Cieeee..."
Saya tahu mereka dengan sengaja melakukannya.
Kedua tanganku sibuk menutupi mulut mereka yang terus meledekku. Andai aku punya lebih dari dua tangan saya tak mungkin kewalahan.
Perasaan gue yang jadian kenapa kalain yang rame. Eh, jangan sebarinnya bukan koran. Yang nyebarin berarti udah langgar hak cipta. Tar saya denda lima juta.
Dia pergi dari depan mata saya dan saya juga beranjak dari tempat duduk ini memasuki kelas.
_
Jam pelajaran berakhir lebih awal, saya memilih untuk duduk di depan kelas sambil menunggu bel pulang berbunyi.
_
Saat pulang saya berpapasan dengan Raka, dia memakai jaket berwarna biru-merah. Tapi kali ini perhatian saya tidak jatuh padanya. Melainkan seseorang berkacamata yang ada di sisinya. Entahlah kenapa mungkin karena baru ketemu?
Lagi-lagi Raka melihat ke arahku, aku tersenyum kecil untuk beberapa detik saja. Sebelum akhirnya dia menundukkan kepalanya dan aku memalingkan pandangan ku. Seperti bukan hanya aku yang pemalu tapi Raka juga.
_
Semenjak saat itu, hari Minggu rasanya pengen aku hapus. Dan hari Senin selalu saya tunggu. Saya juga tak tahu alasan pastinya? Karena saya yang begitu hobi belajar? Atau karena Raka?
_
Hari ini Raka jatuh saat mengikuti lomba futsal antar kelas di sekolah. Seseorang yang memberitahukannya pada saya, dia juga meminta saya untuk membawakan kotak p3k. Dengan berat hati saya harus mengambilnya di UKs yang sudah terkunci. Dan pekerjaan saya bertambah, saya harus cari kuncinya. Setelah bertanya kesana-kemari akhirnya saya dapatkan juga.
"Ini kotak p3k-nya kaka saja yang obati"
"Enggak Adek?"
"Enggak"
Ku tunggu kotak p3k itu.
Raka mengajakku untuk pulang bersamanya. Saya
Komentar
Posting Komentar