Kertas dan Tulisan
Sekitar empat tahun yang lalu...
Di sebuah perpustakaan, saya terduduk dan membaca sebuah novel bergenre fiksi fantasi. Seperti biasanya perpus terasa sepi. Hanya ada saya dan dua orang guru yang sedang berjaga.
Pergi ke perpustakaan dan membaca adalah salah satu hobi saya. Biasanya saya lebih memilih untuk membaca buku ringan seperti novel, cerpen, atau buku cerita. Daripada buku berat berisikan rumus-rumus atau semacamnya.
"Hehhhhh..."
"Hahahaha."
Ada yang datang dan suaranya seperti saya kenal. Masuklah dua orang anak laki-laki yang satu berkacamata dan satunya tidak. Tuh kan benar, tebakan saya tak pernah meleset. Itu suara Edwin dan Fabio. Mereka adalah kakak kelas saya lebih satu tingkat.
" Eh, Raden Ajeng Kartini ada di sini juga?" Tanya Fabio.
" Nama saya Putri Ajeng Kartini, bukan Raden Ajeng Kartini." Kata saya sambil menengok ke arah Fabio.
" Iya deh, becanda. Raden Ajeng Kartini pertanyaannya belum dijawab!"
"Setiap istirahat juga saya suka ke sini."
" Mau ngapain?" Katanya lagi.
Untuk keempat kalinya saya harus berhenti membaca. Karena harus menjawab pertanyaan retorisnya.
" Menurut kamu saya mau ngapain?"
" Baca buku."
" Itu kamu tahu."
Kedua mahluk itu kini terlihat repot membaca, mengeser, dan membolak-balik buku yang ada di rak. Mereka mirip monster yang sedang mengobrak-abrik isi rak itu.
Tiba-tiba...
Edwin duduk di sebelah saya.
Hati saya bilang " Nih anak mau ngapain? Ko, tumben?"
" De, boleh minta kertas gak? Dikiiit, aja." Kata Edwin.
" Buat apa?" Jawab saya cepat.
" Ya sudah, buku kamu saja..!" Kata Edwin. Dia menyeret buku saya dengan paksa.
" Ehhhh, kembalikan buku saya!"
" Saya cuma pinjam sebentar. Nanti juga saya kembalikan."
Sebuah pertanyaan muncul di otak saya "Entah apa yang bakalan dia lakukan? Hanya dia sendiri yang tahu."
Edwin membuka halaman terakhir dan mulai menulis sesuatu di sana. Tak lama kemudian, ia menyodorkan buku yang direbutnya.
" Ini, sudah selesai. Coba baca apa yang saya tulis!" Kata Edwin dengan nada senang.
Duh, apa yah? Saya enggak bisa baca tulisannya. Ini aksara Sunda. Jadi bingung sendiri mau jawab apa?
" Itu tulisan paling namanya sendiri, Edwin..." Timbrug Fabio.
Saya tersenyum mendengar jawaban ngasal Fabio.
" Sok tahu, Lu." Kata Edwin.
" Maaf, tapi saya enggak bisa baca aksara Sunda."
Teng...teng...teng...teng
Bel berbunyi empat kali tanda jam istirahat telah usai. Saya beranjak dari kursi hendak meminjam buku yang belum tamat ini. Supaya bisa saya baca di rumah.
" Ajeng, mau ke mana? " Tanya Edwin.
" Ke kelas. Saya mau ada ulangan."
Meletakkan sebuah novel berjudul "Harry Potter and the Chamber of Secret" di atas meja. "Bu, saya bawa pulang yang ini."
" Isi dulu data perpustakaan, yah!" Kata Ibu Eva.
" Iya, Bu."
Setelah kertas tanda peminjaman buku terisi. " Terima kasih, Bu."
" Terima kasih kembali."
Selesai mengikatkan tali sepatu dengan segera saya meninggalkan tempat ini dan seisinya. Baru beberapa langkah saya berjalan. Terdengar suara Edwin dari dalam perpustakaan " Jangan lupa untuk baca tulisan saya!"
Saya hanya memandang wajahnya yang nampak di balik jendela tanpa memberikan jawaban apapun. Tapi hati saya tidak bisa berbohong, saya terlalu bahagia saat ini.
Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya sebenarnya tulisan apa yang tertera di buku itu? Karena semenjak tulisan di buku itu saya sobek menjadi potongan kecil. Potongan kertas itu hilang entah ke mana? Dan saya belum sempat membaca tulisannya. Seingat saya kertas itu tidak hilang, tapi saya buang dengan harapan saya bisa melupakannya.
.png)
Komentar
Posting Komentar