Kalah | Edisi Cerpen
Sebelum kalian baca cerpen ini kita kenalan dulu yuk
Kenalin kak, dek, buk, pak namaku Aidyn Ayunda, kalau kamu siapa namanya ?
Lahir di kota Kuningan 17 Oktober 2004, kalau kamu ? sekolah di SMA Negeri 1 Ciawigebang.
Jadi gini, aku tinggal sama nenek, ya tepatnya aku tinggal berdua nggak ada ayah ataupun ibu. Kedua orang tuaku kerja buat aku dan nenek. Selamat baca ...anggap aja prolog ya...
Fazar mulai memamerkan sinarnya yang berhasil menerangi kamar kecilku bahakan seluruh jagat raya ini. Hangat rasanya saat aku buka jendela ....
"Hai matahari terima kasih karena telah bersinar dihari ini dan membangunkanku" gumamku
Ting...
Bunyi suara hp-ku
"Siapa ini pagi-pagi buta udah ganggu aja"
Ternyata sebuah pesan dari Kabinet Kerja 11 MIPA 4, ya ..itu adalah grup kelasku cukup keren kan namanya. Kayak nama susunan kementerian !
Kubuka pesannya lalu kubaca, yang isinya cukup membuatku terkejut.
Serasa bangun dari tidur aku, padahal udah dari tadi
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Berdasarkan kalender pendidikan TP 2019/2020 dan surat dari dinas pendidikan provinsi Jawa Barat. Pelaksanaan PAT (Penilaian Akhir Tahun) akan dilaksanakan pada tanggal 3 - 13 Juni 2020.
Sekiranya itulah isi pesannya
Bagaimana aku tidak terkejut, aku tidak mengira kalau penilaian akhir tahun akan tetap dilaksanakan walaupun wabah covid-19 masih merebah di negeri kita ini.
Aku sama sekali tidak tahu bagaimana ini, masa iya sih aku bisa mempelajari mata pelajaran yang banyak banget dalam waktu 1 minggu.
Suasana yang amat nyaman kini berubah, aku tengah kebingungan. Bingung sangat bingung, jelas pasti bingung 16 mata pelajaran sudah menungguku. Entah harus aku mulai dari mana, dari buku apa, dari mata pelajaran apa ?
Berbagai pertanyaan menyelimuti hatiku dan otakku, yang sebenarnya sudah malas dengan semua ini. Harus selalu belajar agar nilaiku bagus, agar aku bisa diterima di universitas Indonesia, universitas yang sudah lama aku impi-impikan.
Sebuah ide brilian muncul dari otaku. Sebaiknya aku belajar matematika terlebih dahulu soalnya kalau aku nggak paham konsepnya dan cuman hapal rumusnya aku bakalan kesulitan. Kalau buat materi kayak bahasa Indonesia kan masih bisa baca-baca.
Secepat mungkin akupun berlari ke kamarku aku ambil buku matematika peminatan dan matematika wajib. Aku pun mulai mempelajari satu persatu rumus dalam buku, lama rasanya sekedar untuk memahami satu rumus saja keluh hatiku. Sebenarnya aku kurang suka kalau misalkan belajar harus diburu-buru seperti ini. Tapi apa boleh buat. Ini adalah satu-satunya cara supaya nilaiku bagus.
" Yang harus aku pelajari pertama kali adalah persamaan lingkaran. Lingkaran adalah sekumpulan titik yang mempunyai jarak sama terhadap titik pusat tertentu". Kataku menghafal pengertian lingkaran.
" Rumus persamaan lingkaran yang mempunyai jari-jari r dan titik pusat a, b adalah (x-a)² + (y-b)² = r² " ucap mulutku yang sibuk ngapal rumus.
Sesekali rasa kantuk menghampiri sekujur tubuhku, kepalaku yang pegal harus selalu tertunduk pusing pula, mataku yang perih karena terus membaca, sikutku yang sakit karena jadi tumpuan. Isi kepala ku yang terus-menerus berkata padaku kamu harusnya nonton acara TV favorit kamu hari ini nanti ketinggalan loh. Aku tetap memaksakan diri untuk belajar. Tapi semakin aku memaksakan diri untuk belajar sekuat itu pula otakku merayuku agar aku menonton acara favorit ku terlebih dahulu.
Akhirnya tubuhku kalah oleh otakku yang kecil, kini aku tidak lagi berhadapan dengan buku-buku yang membosankan itu.
6 hari tak terasa aku lewati dengan belajar namun rasa malas yang lebih mendominasi. Aku lebih memilih menonton TV dibandingkan harus kembali bertemu buku-buku.
Ini adalah hari terakhir sebelum menjalani hari pertama penilaian akhir, aku harus segera membaca buku bahasa Indonesia dan PAI. Walaupun aku merasa aku lebih banyak lengah dibandingkan serius untuk mengerti isi buku yang kubaca.
Tak lupa pula aku berdoa kepada Tuhan supaya ulangan nanti diberi kelancaran.
" Ya Allah ya Robb mugia keenjing ulangan abdi dipaparinan ka babarian sareng kalancaran...Amiinnn" kata hati ini dengan lirih.
Maklumlah kalau teman-teman merasa aneh kok pakai bahasa Sunda sih . . .Yap aku terbiasa bicara dengan dua bahasa, bahasa Inggris juga bisa kok.
Entah mengapa ada yang berbeda di hari ulangan pertama ini aku merasa kesulitan dalam mengisi soal- soal.
Hari demi hari ulangan telahku lewati dengan malas dan bosan
Besok adalah pas terakhir dengan jadwal ulangan matematika. Aku kembali mengingat rumus-rumus yang rasanya masih asing di otakku. 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam rasanya tak cukup untukku mengerti rumus ini. Aku lebih memilih tidur apalagi kepalaku merasa pusing. Besok pagi kan masih bisa lanjut.
Kring...kring....kring...
Jam weker berbunyi dan menujukan pukul 7.30 WIB
"Lah...kok udah siang, ini mah tinggal ulangan aja 30 menit lagi. Gak bakalan keburu kalau mandi, belum lagi ada beberapa rumus yang belum aku hapal .Ya udah deh aku ngak usah mandi langsung aja ikut ulangan.."
Pukul 8 tiba ulangan pun dimulai, seperti biasa Bu Mimin akan mengirimkan sebuah link disertai sandinya. Tanpa banyak babibubebo aku segera memijit linknya dan memasukan sandi. Ku isi identitas dengan lengkap.
"Bismillahirohmanirohim"
Aku mulai baca soal pertama, cukup mudah bagiku. Soal kedua cukup mudah juga. Tapi kenapa soal ke-3, ke-4, ke-5, dan seterusnya begitu sulit bagiku padahal aku sudah belajar. Kulewati waktu 45 menit untuk mengisi soal yang ku bisa, walaupun kenyataannya lebih banyak soal yang ku isi sembarangan.
"Cap..cip..cup..kembang kuncup, pilih mana yang mau dicup" ketusku daripada soalnya gak diisi.
Singkat cerita hari pengumuman hasil belajar alias raport tiba. Aku pun dengan semangat 45 segera pergi ke sekolah. Sekitar pukul 9 aku dan teman-temanku sudah berkumpul di lapangan untuk mendengar pengumuman hasil belajar kami.
Aku melihat ada Bu Rini yang menjadi MCnya, dia adalah guru kimia di sekolah.
" Juara 1 dari kelas 10 MIPA 1 adalah Reina Aprillia, juara 1 MIPA 4 adalah Haifa Nur "
Dan seterusnya hingga akhirnya sampailah di kelasku
"Pasti aku lagi kali ini yang jadi juara" percaya diriku meningkat
"Juara 1 dari kelas 11 MIPA 1 adalah Fitria Listianingsih"
"Tenang kalau aku nggak juara 1 pasti aku juara 2 kan biasanya juga gitu"
"Juara 2 nya adalah Dinda Aprilia"
"Kok bisa sih...tenang masih ada satu lagi pasti aku juara 3"
"Juara ketiga adalah Liu Pasha, silahkan maju"
"Mana namaku Aidyn Ayunda, kali ini tidak ada yang nyebut nama ku"
Sedih, malu, kecewa dan ingin marah rasanya. Berkali- kali aku bertanya pada diriku sendiri kenapa namaku tidak disebut padahal aku sudah berusaha.
Belarilah aku sekencang-kencangnya, ditemani dengan tetesan air mata dan suara insak yang beriringan.
Aku pulang lebih dulu ke rumah dibandingkan yang lain, tak berapa lama setelah sampai di rumah aku menangis sejadi-jadinya hingga aku tertidur.
Dalam tidurku aku bermimpi aku menjadi juara umum pertama di sekolahku, aku tersenyum dengan bangganya, teman-temanku mengucapkan kata selamat padaku begitupun dengan ibu dan bapak guru yang melihatku dengan tatapan bangganya.
Aku berkata pada diriku sendiri pasti ini buah dari keringatku sebab aku selalu belajar walaupun tiada ulangan. Apalagi jika ada ulangan aku akan lebih serius lagi dalam belajar.
Aku pun pulang ke rumah dengan gembira namun diperjalanan kakiku tersandung batu aku pun terjatuh bersama dengan piala dan medali ku yang terpelanting ke tanah...
Awww...sakit...
Seketika itu pula aku terbangun dari tidurku, disaat itu pula di sampingku sudah ada wanita tua yang ku sebut nenek...
"Ada apa ini cucu nenek, kok teriak-teriak?"
"Nggak kok nggak papa"
"Mana mendaliku... mana pialaku..." Tanya hatiku
Aku pun menatap sekeliling ku. Nyatanya aku sedang berada di kamar tidurku yang selalu sama di mataku. Itu cuma mimpi sekaligus kenangan dulu yang pernah aku alami tepatnya saat aku kelas 1 SMP.
Aku menangis lebih kencang dari sebelumnya mengingat kejadian itu, aku ingin kembali, seperti dulu lagi seperti 4 tahun yang lalu menjadi aku yang dibanggakan semua orang.
Nenek memelukku dengan erat
"Udah nggak papa kok nggak juara, lain kali kan bisa, cup-cup " kata nenek.
Kali ini aku benar-benar terbagun bukan karena aku bangun dari tidur. Tapi karena aku sudah menyadari bahwa sudah sewajar kalau aku menjadi seseorang yang kalah hari ini mungkin karena usahaku yang tanpa persiapan dan penuh kemalasan. Malu diri ini berharap jadi juara seperti dulu padahal aku tak pernah berusaha dengan serius selama ini.
Untuk kedua kalinya aku benar-benar sadar
Bahwa kenyataan tak seindah ekspektasi
Namun itulah yang terjadi hari ini
Aku harus bisa menerimanya
Dan aku berjanji, esok hari aku akan belajar lebih giat dan lebih serius lagi...
.png)
Komentar
Posting Komentar